Bawaslu Libatkan Generasi Muda, Dorong Gen Z Jadi Garda Pengawas Pemilu 2029
|
Jakarta, 10 Februari 2026 – Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia menerima audiensi Perkumpulan Warga Muda dalam rangka membahas peran strategis generasi muda pada Pemilu 2029. Pertemuan ini menekankan pentingnya penguatan literasi politik serta kesadaran demokrasi di kalangan Gen Z agar tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga integritas Pemilu.
Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, menegaskan bahwa penguatan fungsi pencegahan perlu dimulai dari edukasi politik yang menyasar generasi muda. Menurutnya, pengawasan di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) menjadi titik krusial dalam menjaga kualitas demokrasi, sehingga pemilih muda perlu dibekali pemahaman yang memadai sebelum menggunakan hak pilihnya.
“Pemilih muda harus hadir ke TPS dengan pengetahuan yang cukup, memahami pilihan politiknya, serta memiliki kesadaran untuk ikut menjaga proses pemungutan suara tetap jujur dan adil,” ujar Bagja.
Ia juga menyoroti peran media sosial yang semakin dominan dalam membentuk persepsi politik generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan politik dinilai penting untuk membentengi Gen Z dari paparan hoaks dan disinformasi yang dapat memengaruhi kualitas demokrasi. Ia menambahkan bahwa pengelolaan isu di media sosial pada Pemilu sebelumnya menunjukkan perkembangan yang cukup baik, namun tetap perlu diperkuat ke depan.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Dukungan Teknis Bawaslu, Yusti Erlina, menyampaikan bahwa pendekatan kepada generasi muda harus disesuaikan dengan karakter dan pola komunikasi mereka. Ia menilai perlunya inovasi dalam penyampaian materi edukasi politik agar lebih relevan dan mampu menjangkau Gen Z secara efektif.
“Kita perlu merancang metode dan forum yang tepat agar pesan-pesan demokrasi dapat diterima dengan baik oleh generasi muda, mengingat mereka akan menjadi pemilih dominan pada Pemilu 2029,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan Warga Muda, I Putu Arya Aditia, menekankan bahwa demokrasi seharusnya tumbuh dari ruang-ruang diskusi di tingkat komunitas. Ia menilai Bawaslu memiliki peluang besar untuk semakin dekat dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih inklusif dan komunikatif.
Menurutnya, generasi muda tidak hanya perlu didorong menjadi pengamat, tetapi juga menjadi penjaga demokrasi yang memahami bahwa pengawasan merupakan bagian penting dari partisipasi warga negara.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu berharap kolaborasi dengan generasi muda dapat terus diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun demokrasi yang partisipatif dan berintegritas. Keterlibatan Gen Z diyakini menjadi kunci dalam menjaga kualitas Pemilu di masa mendatang.
Penulis: Aldy Avicena
Foto: Dok. Bawaslu RI
Sumber: Bawaslu RI